Sahabat versi Tatik Yonnah

Sahabat versi ku, adalah:

Orang lain barangkali yang sebaya dengan kita dan mengerti banyak hal tentang kita. Mereka adalah teman sepermainan kita. Kita dipertemukan dalam keadaan yang masih lugu. Sehingga melalui berbagai proses untuk mengerti banyak hal. Dan kita sama-sama maju untuk belajar.

Sahabat adalah teman masa kecil kita. Di mana ketika kita beranjak dewasa dan berpisah dengan kita, kita merasa kehilangan dan begitu merindukan mereka. Itulah sahabat. Kita mengerti banyak hal tentang mereka. Baik ataupun buruknya mereka. Kita mengerti dan tidak banyak menyinggung soal kelemahan mereka. Karena bagi sahabat, kekurangan itu tidak akan terlihat. Yang akan dilihat dari seorang sahabat adalah seperti apa karakter dan perkembangan kesejahteraannya. Kita tahu, kita peduli, dan kita bahagia atas keberhasilan sahabat kita.

Sementara yang kita kenal setelah dewasa adalah seorang teman. Kita mengenal teman. Hanya sebatas mengenal. Tidak tahu persis bagaimana keadaan sebanarnya. Karena rata-rata kita mengenal mereka setelah mereka mengalami proses pendewasaan dengan pikiran  yang terkadang sudah mampu untuk menyimpan, merahasiakan, atau mengubah suatu pemikiran. Walaupun terkadang kita mendengarkan ceritanya tentang kehidupan, suka duka, lika liku, dan entah apa lagi, tetap sebenarnya dia masih mampu menyembunyikan sesuatu yang kita tidak bisa tahu. Hanya waktu barangkali yang mampu memberikan penilaian untuk kedekatan kita kepada seorang teman.

Jadi, sahabat…. Sungguh ketika aku benar-benar mengingatmu, aku ingin segera bertemu denganmu. Dan teman, semoga kau bahagia dengan kehidupanmu. Amiin.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Teruntuk: Yang Terhormat

Puisi Karya Tatik Yonnah

Adalah mata sayu mendayu-dayu

seiring permohonan terbitnya keputusanmu

yang tersendat-sendat bagai tersumbat kesumat

Apakah harus kami mengendus ujung kakimu yang bau kenanga?

yang selalu berpijak kekuasaan dan kegila-hormatan

Kepada Yang Terhormat kami menjadi saksi,

pengabdian degan kesetiaan atau perbudakan dengan hak?

Janganlah yang terhormat lupakan, bahwa:

Kami adalah buruh-buruh yang diperas hingga sepah,

hingga hilang tulang-tulang menjadi ampas

Di kala kau mengkoar-koarkan tentang kewajiban

lalu apa guna kewajiban tak terbalas hak seutuhnya?

Ancaman!

Bukan,

bukan kita menentang atau menantang

Hanya mengungkapkan pikiran-pikiran pemberontakan

teruntuk:Yang Terhormat

Maukah kau duduk lesehan menghadap kami yang berdiri

lalu menangis dan mengemis

sambil berbisik, “Wahai buruh yang terhormat, kalian pundi-pundi kekayaanku!”

Semarang, Juni 2015

Info Lomba Terbaru, Formaci Jateng Gelar Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional

SEMARANG, Islamcendekia.com – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah menggelar Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional pada Sabtu-Minggu, 8-9 November 2014. Dengan tema “Mengenang Perjuangan Pahlawan melalui Seni” di Gedung Balaikota Semarang.

“Kegiatan ini kami selenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan,” tutur M Kholil Syaroni Ketua Panitia Pelaksana. Menurutnya, panitia mempersiapkan beberapa hadiah menarik.

“Pemenang lomba juara I mendapat uang tunai sebesar Rp. 25.000.000, Juara II Rp. 15.000.000 dan Juara III mendapat uang Rp. 10.000.000 serta sertifikat,” tutur Kholil.


Semua peserta akan mendapatkan buku, sertifikat dan fasilitas penginapan. “Ini kami persiapkan demi terwujudnya nilai pancasila di benak pemuda,” kata Kholil.

Sesuai rillis dari panitia, kegiatan itu akan digelar di Gedung Rimba Graha Semarang,  Jl Pahlawan No 15-17 Semarang (samping kantor Gubernur Jateng). Dalam acara tersebut, panitia mengundang K.H. Mustofa Bisri sebagai sastrawan sekaligus pementasan puisi untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Akan hadir pula Mohamad Suleman Hidayat (Menteri Perindustrian RI), Ganjar Pranowo, SH (Gubernur Jateng), Deddy Mizwar (Seniman), Didi Petet (Seniman), Rida K Liamsi (CEO Riau Pos Group), Denny Januar Ali, Ph.D (Intelektual entreprenuer), R. Tomahouw, SH (Ketua DPRD Kota Ambon), Kadin Dikbud Ambon,  Aminullah (Politisi Muda Jateng) dan sebagainya

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi peserta yaitu:
1. Peserta  merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berusia 15 tahun ke atas
2. Peserta yang membaca puisi hanya 1 orang
3. Peserta tak perlu membuat karya puisi (puisi disediakan panitia)
4. Peserta bebas mengekspresikan penampilannya
5. Peserta diperbolehkan membawa alat musik sendiri (panitia tidak menyiadakan alat musik)
6. Peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 125.000 melalui No. Rekening BCA: 0990221600 a.n Naelu Rizqi.
Cara mendaftar lomba puisi
Bagi yang tertarik, peserta harus transfer uang sebesar Rp. 125.000 ke salah satu rekening di atas. Setelah transfer ke rekening tersebut, struk biaya pendaftaran discan kemudian dan dikirim bersama daftar riwayat hidup lengkap lalu kirim ke e-mail : formacijateng@gmail.com dimulai 1September 2014 dan paling lambat tanggal 1 November 2014. Keterangan Lebih Lanjut Hubungi, Tajus Syarofi (085 290 404 481), Hamidulloh Ibda (085 6267 4799), Kholil Sya’roni (082 226 184 385) atau Naelu (081803990999).

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim. Foto: Formaci Jateng

– See more at: http://www.islamcendekia.com/2014/09/info-lomba-terbaru-formaci-jateng-gelar.html#sthash.Kd1A3gXa.dpuf

Senilai 50 Ribu

Apa yang bisa kalian seharian dengan uang 50 ribu?

Pertanyaan itu kutemui saat aku buka http://www.kemanapunasyik.com. Yeay, aku jadi berpikir. Apa ya, yang bisa aku lakukan seharian dengan uang segitu? Aku tahu. Aku bisa beli pulsa dan internetan ria seharian. Menjelajah dunia maya dan mencari infomasi lomba menulis. Itu memang yang bisa kulakukan. Browsing info sekaligus ikutan lombanya. 

Ah, tapi aku menjadi ingat Minggu kemarin. Tanggal 15 Juni 2014. Kalau Minggu itu tidak kerja bagi buruh pabrik. Aku memang punya rencana Minggu itu. Mau membeli pencil charchoal. Buat menggambar. Kuajak seorang temanku. 

Tapi tak hanya kami berdua yang punya rencana. seorang temanku lagi juga mau jalan-jalan. Katanya sepi ditinggal sahabatnya kencan. Ya, kalau jomblo mungkin sering kesepian. 

Ya, kami bertiga berangkat. Posisi kami nge-kost di Ungaran. Dan tujuan kami di pasar Johar. Pasar terbesar di Semarang. Dari Ungaran ke pasar Johar memang jauh. Itu akan terasa kalau kita naik angkutan umum. Saat itu kami naik bus mini. Ekonomi dan berdesak-desakan. Kursi sudah penuh, tetap saja kondektur mencari penumpang. Kalian tahu? Posisiku saat itu duduk paling belakang. Dekat ban. Dan itu membuatku terlempar-lempar ketika jalanan naik turun tidak merata. Lagi, tubuhku terjepit di antara tubuh-tubuh penumpang lain di kanan kiriku. Sungguh, posisi yang tidak mengenakkan. Bus penuh. Penumpang rebutan oksigen. Karena kurang, tubuh mereka keringetan. Aku pun sama. Jendela tertutup rapat. Aku di belakang. Mual rasanya. Ingin pingsan. Parfum plus aroma keringat mereka campur baur di hidungku. Apalagi seorang bujang malah merokok. Wow banget jadinya.

Itu penderitaan orang-orang yang tidak punya mendaraan pribadi saat berpergian. Ya, tidak harus mobil, motor pun bisa. Kadang terlintas dalam pikiranku kalau aku punya sepeda mototr sendiri. Pasti asyik. Kemana-mana bebas. Tanpa desak-desakan, mual, dan mau pingsan. Kalau jalanan macet pun, kita bisa menyelinap dan menyalip kendaraan besar. Motor kan ramping. Nah, ketika aku lihat ada info event dari yamaha Fino FI, aku langsung ikutan. Siapa tahu beruntung. Lagipula aku juga tertarik sama bodynya. Imut. 

Kembali ke cerita, kami menghabiskan uang lima ribu rupiah untuk sampai ke pasar Johar. Lima ribu itu untuk seorang penumpang. Jadi kalau kami bertiga, ya, lima belas ribu rupiah.

Pasar ketika itu begitu ramai. Ada pasar malam soalnya nanti. Jadi, perlengkapan pasar malam masih ada di sana. sebagian malah sedang dipasang. Ramai lah pokoknya. Tujuannya sih mau beli pencil charchoal. Tapi berhubung ramai, aku mengurungkan niatku. Aku ajak teman-temanku ke lantai dua pasar Johar. Beli buku. Pramoedya Ananta Toer. Harganya tiga puluh ribu. Tapi aku menawar. Dan jadinya berharga dua puluh lima ribu. 

Temanku ada yang naksir sepatu sandal. Terutama yang di stan dagangnya ada tulisan discon 20%-50%. Mantap? Kami menjajal sandal di banyak stan penjualan. Tampilan sandalnya juga menarik. Seorang temanku memborong sandal. Buat persiapan lebaran katanya. 

Karena lelah di bus dan haus, setelah melihat dan membeli sandal, kami memutuskan untuk beristirahat. Kami masuk di sebuah stan perdagangan makanan. Aku memesan bakso dan es jeruk. Baksonya rasanya agak berbeda. Tidak terlalu berlemak. Eh, ternyata itu bakso ceker ayam. Ya pantaslah kalau berbeda. Biasanya makan bakso sapi, sih. Harga bakso ceker ayam delapan ribu rupiah dan es teh dua ribu rupiah. Jadi totaal makannya senilai sepuluh ribu rupiah. Masih sisa sepulug ribu. Yang lima ribunya tentu buat pulang ke Ungaran.

Setelah berenergi karena bakso dan es teh, kami jalan-jalan lagi. Mencari diskonan. Kami masuk stan kerajinan tangan. Eh, di dekatnya ada tulisan, ‘diskon 50-70 %. cuci gudang’. Langsung deh teman-temanku menyerbu ke sana. Mereka tertarik sama tas. Beda sama aku. Aku tidak membeli tas. 

Lalu kami masuk sebuah gedung. Tahu itu apa? Mall!. Wew. Banyak baju di sana. Seorang temanku ada yang ngidam pingin gamis. Lagi-lagi buat lebaran. Tapi harganya kurang pas dikit. Jadi, untuk mencari gamis yang harga terjangkau dan model disuka, kami harus keliling mall. Sepertinya memang dari lantai bawah sampai lantai atas sudah kami telusuri satu per satu. Itu melelahkan. Bahkan sampai aku nyaris terpencar dengan teman-temanku. Akibat keliling mall, selain kaki menjadi pegel-pegel, haus juga ternyata. Aku sampai beli minuman habis 5000. 

Setelah benar-benar lelah dan kaki lecet-lecet, kami memutuskan untuk pulang. Lagi-lagi harus naik bus super penuh plus super sumpek. 

Sampai kos-kosan sudah hampir Maghrib. Tapi itu perjalanan menyenangkan sekaligus melelahkan. Dengan uang lima puluh ribu. 

Itu yang bisa aku lakukan dengan uang lima puluh ribu. Kalau kamu? Apa yang bisa kamu lakukan dengan uang lima puluh ribu seharian? 

Buka juga link ini. Ini link video viral Fino FI. 

 

Saat Usia Mengharuskanku untuk Bekerja

Kerja. Mencari uang.

Ah, sejak aku diharuskan oleh usia untuk ‘BEKERJA’, aku merasa berbeda. Aku telah berubah. Menjadi orang lain. Bukan menjadi diriku sendiri. 

Aku tidak mengerti akan semua ini. Aku juga baru sadar kalau ternyata aku hanya mengikuti ke mana arus waktu membawaku. Detik ini setelah kubuka catatan lamaku, aku bertanya. Ke mana sosok ‘AKU’ yang dahulu? Ke mana harapan beserta impianku yang dahulu? Yang mungkin telah kurintis sejak SMA.

Kini yang kupegang bukan benda elastis yang kubuat sedemikian rupa. Kuregangkan atau tidak. Tapi ini seperti logam keras yang harus kutempa menjadi bentuk yang kuinginkan. Dan itu sulit bagiku. 

Berangsur-angsur aku melupakan kesenanganku. Kesenangan untuk mencoret-coret kertas dengan pensil, pewarna, ataupun mengayuh sepeda tergesa-gesa. melewati sawah, rerumputan, bau kotoran kerbau, ah, juga anak-anak SD yang mengiringiku dengan keriuhan sapaan mereka. “Mbak Sriii, ngati-ati, yoo…” Dan berujung pada satpam yang meminta kami, ‘ANAK-ANAK TELATAN’ untuk berbaris dan mengambili sampah. 

Mungkin sekarang aku masih bisa mengenangnya. Tapi kurasa akan sulit untuk melakukan yang pernah kulakukan. Aku tidak lagi semahir dahulu. Tidak bebas ini itu. Berbeda! Sepertinya aku berada di dunia yang salah. Dunia yang dibatasi oleh tembok-tembok yang kokoh. Entah terlapisi semen tiga roda atau semen gresik. Yang pasti, mungkin akan sulit untukku menjebolnya. 

Terkadang, aku ingin berhenti. Aku ingin berbelok arah. Menuju dunia yang kubayangkan. Hijau dan wangi tanah basah. Ingin aku kembali menggerakkan tanganku. Memegang dussel, pantograf, kapas, dan menabur serbuk konte. Aku juga ingin mencium harumnya kertas-kertas lama. Yang aku hirup bersama impian berlapisku. 

Dan, teman setia tertidur di sampingku. Atau mengajakku berbicara. Bercerita banyak hal. Dia, kucingku….

Lawang Sewu Tidak Lagi Serem

Kalau kita nonton horor, apalagi yagn settingnya di lawang sewu kok kelihatan serem, ya? padahal sebenarnya tidak, lho. Mungkin yang menyebabkan kesan serem itu penata artistiknya. Wah, kalau gitu penata artistik keren dong? Ya eyalah pastinya….

Kemarin saat saya berwisata ke lawang sewu, banyak pengunjungnya. Ramai lah pokoknya. Pemandunya berpakaian khas jawa dan ramah. jadi menurutku kok yang terkesan serem itu malah seragam pemandunya. Hahaha…. Enggak ding. Kan nguri-uri budhaya. 😀

Kami bertiga. Aku dan dua adikku. Penasaran berat dengan yang namanya lawang sewu. Konon katanya harus hati-hati kalau ke sana. Kalau tidak ingin tersesat alias tidak bisa keluar dari gedung. ???? Aku tidak tahu kalau itu. Habisnya aku tidak masuk terlalu dalam sih. 

‘Lawang sewu itu sekarang kan sudah rame. Sudah enggak angker lagi, ya….’ kata seorang petugas poto saat kami meminta untuk difoto di bagian yang angker. Hooooo….

Iya, sih. Waktu itu selain lagi ramai, Gedungnya juga sebagian masih dalam perawatan. Jadi tidak semua gedung bisa di masuki. Itu juga sedang ada penecatan ulang. Jadinya terkesan modern karena warna cat masih kinclong. Keren lah pokoknya. 

Karena tujuan utama mau narsis, kita puas-puasin deh narsisnya. Sampai memory card hampir penuh. Huahaha, namanya juga anak muda! Gak cukup hanya poto lewat hape, kami juga minta dipoto sama tukang potonya. Ya, sama cetak dan habis hampir seratus ribu. Ya elahhhh….

Selesai narsis, kami pun keluar. Beli batagor dan es dawet. Wuahhh, segerrrr, rekk…

Pulang-pulang tekor deh. Tapi tak masalah. Penasaran tidak lagi. Dan bisa membuktikan bahwa lawang sewu itu tempat wisata yang cocok buat narsis. Heheheh…

Asyiknya Antre Mandi….’BIASA, ANAK KOS!’

Jam empat pagi ada yang ngetok pintu. Anak kos sebelah ternyata. Mau numpang mandi. Maklum, kamar mandi belum jadi di kos sebelah. Ada sih kamar mandi. Tapi itu cuma satu. Padahal yang ngekos di sebelah itu anak empat belas. Bayangkan!

Aku buka tuh pintu. Seseorang nongol. Lalu nyengir. Ah, sudahlah…. Kalian tidak salah, kok. 

Jam lima thit, itu jadwalku mandi. Alarm sudah berbunyi. Tapi yang lagi mandi belum selesai. Oke, aku tunggu sampai selesai. Telat dikit ga apa. Kutunggu kau kutunggu…. Ku nanti kau ku nanti…. Hingga akhir hayat ini…. Hahaha…. Bercanda. 

Seorang selesai. Tentu aku yang kamarnya paling dekat dengan kamar mandi, langsung ambil aksi. Berlari aku memasuki kamar mandi. Dan, yah…. Langsung kututup pintu. Mendadak ada suara. 

“Mbak lagi apa? Mandi?” tanya seseorang dengan suara parau layaknya habis bangun tidur. 

“He eh,” jawabku. Ya iyalah.

“Ya udah. Aku tunggu di sini, ya, Mbak,” katanya dengan nada yang terdengar agak jengkel. Ah, baru mimpi buruk kali. 

TApi asyik, sih. Aku yang berada di dalam langsung panas seketika. Baru masuk, eh, udah kayak berminggu-minggu di kamar mandi. Ya gimana lagi. Katanya kalau ditunggu orang harus cepet-cepet? Ya, aku langsung ngebut mandinya. Bayanganku tuh, orang itu lagi duduk memelas bersandar tembok di depan kamar mandi. Iuuuhhh banget, kan? Padahal aku baru masuk! Uh, rempong. 

Tak peduli aku. langsung aku bersih-bersih. ya, walaupun ada busa sabun yang masih menempel di tubuku. Tapi tak apalah. Yang penting tuh orang tidak lama-lama duduk di depan kamar mandi. Menanti hingga frustasi.

Dan yuhuuuu…. Biasanya aku akan langsung pasang senyum setelah keluar kamar mandi. soalnya kan ada yang ngantre. tapi…. 

plooongggg…. kosong….

Ternyata yang menunggu aku mandi hanya sebuah sabun dan sikat gigi. De, aku senyumnya sama dua peralatan mandi itu, dong.

Ya, namanya juga anak kos. Bukan rumah sendiri, sih. Tapi asyik kalau ramai begini. Mandi ngantre. Itu kan kos bangettt. Coba kalau besok kamar mandi sebelah udah jadi dan tak ada acara ngantre lagi?? Sepi pasti euuuyyy.